Tearmoon Empire Story I - Bab 66

Settings:
Tearmoon Empire Story (WN)
Lakon 1 - Tuan Putri Yang Terpancung


Src: https://ncode.syosetu.com/n8920ex/68/



66 - Mia yang terserang demam sedang bermimpi - bagian awal


"Uuu...., uuu."

Di tempat tidur di kamarnya, Mia sedang mengerang kesakitan.
Pada hari Kejuaraan Berpedang itu, Mia, yang basah kuyup oleh hujan, menjadi wanita yang baik dan menakjubkan (begitu ia menyebut dirinya), sangat tergerak akan perjuangan Pangeran Abel.
Ia sangat senang sehingga ia tidak mendengarkan nasihat Anne, dan berkeliling sembari rambutnya yang masih basah karena hujan. Dan akibatnya, ia pun terserang demam.
Di sore hari, Mia terbangun.

"Anne? Apakah engkau disana, Anne?"

Ia melihat sekeliling dengan pandangan yang samar dan kabur.

"Ya ampun, ini sungguhlah aneh."

Ia memiringkan kepalanya.
Ruangan itu sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Ruangan itu berantakan, pakaian Mia terlipat, dan sebuah pena tergeletak diatas meja.
Ruangan itu tidak terurus dan terawat, namun Mia terbiasa dengan hal itu.

――Ah, ini adalah yang dahulu....

Itu adalah apa yang dari garis waktu sebelumnya.
Mia pernah terserang demam.

"Benar, saat diriku bangun, gadis itu sudah tidak ada di sini."

Gadis itu, yang mana adalah pelayan pribadi Mia, keluar, meninggalkan Mia yang sedang tertidur.
Dia adalah putri ketiga dari keluarga bangsawan besar, dia selalu tersenyum dan menyanjung ketika berbicara dengan Mia. Dia adalah favorit Mia karena ia senang mendengar dia saat memujinya.

――Diriku diberitahu dikemudian hari bahwa dia pergi minum teh dengan rekan-rekannya karena dia tidak ingin tertular demam.....

Tiba-tiba terbangun di sore hari. Ia merasa sangat kesepian di kamar sendirian....
Seakan ia adalah satu-satunya yang tersisa di dunia.





"Putri Mia, Putri Mia......"

Merasakan perasaan tubuhnya yang diguncang, Mia perlahan membuka kelopak matanya dan samar-samar melihat...

"Putri Mia, apakah anda baik-baik saja?"

Tampak dalam pandangannya tepat di depannya ialah wajah khawatir Anne.

"Eeh? A, Anne....., jadi, yang barusan itu hanyalah mimpi?"

Mia melihat sekeliling dalam kebingungan. Ia ingin tahu apakah kamarnya telah dibersihkan ketika ia sedang tertidur. Ruangan itu dalam keadaan rapi dan bersih, tanpa setitik pun debu tampak.
Tidak hanya itu, Mia juga merasakan ketenangan. Kamar dalam mimpinya itu sangatlah tidak nyaman sehingga ia merasa bahwa kamar tersebut bukanlah miliknya.

"Anda tampak seolah sedang mengalami mimpi yang sangat buruk...."
"A, ah, jangan khawatirkan itu."

Anne menghela nafas lega atas jawaban Mia itu. Dia telah meletakkan kursi di sisi tempat tidur dan mengawasi serta menjaga Mia sepanjang waktu.

"Anne, engkau akan tertular demam, jadi janganlah terlampau dekat...."
"Apa yang anda ucapkan, Putri Mia? Saya ini tangguh, jadi saya kan baik saja. Jangan khawatirkan akan hal lain, lebih baik anda istirahat saja."

Jawab Anne sambil menepuk dadanya sendiri dengan kepercayaan diri lalu mengganti kain kompres di dahi Mia dengan yang baru. Sentuhan kain dingin terasa begitu nyaman sehingga Mia jatuh terlelap kembali.





"Tuan Putri Mia, anak itu, dia membaca buku sendirian lagi."
"Ya ampun, lagi?"

Suatu hari di sore hari.
Satu dari pengikut Mia menertawakan Chloe saat dia sedang membaca buku di sudut kelas.
Chloe tidak ada dalam ingatan Mia di garis waktu yang sebelumnya. Mereka tidak berteman, mereka hanya memiliki sangat sedikit kesempatan bertemu.
Itulah mengapa Mia sama sekali tidak mengingat hari itu.

"Bagaimana pendapat anda, Putri Mia? Tentang si Chloe itu?"
"Saya mendengar bahwa keluarganya membeli gelar kebangsawanan dengan uang. Saya tidak percaya bahwa ada orang semacam itu di Akademi ini."

Para gadis di sekelilingnya berbicara buruk tentang Chloe sesuka hati mereka.
Mia tidak ambil bagian dengan mereka, namun juga tidak menghentikan tindakan mereka.

"Diriku tidaklah tertarik. Dibandingkan itu, apa kalian telah mendengarnya? Tentang Pangeran Shion. Para pengikut beliau adalah orang-orang jelata, namun mereka cukup tampan...."





"Ah, Putri Mia, apakah anda sudah bangun?"

Ketika bangun, ia menemukan bahwa ada Chloe di samping tempat tidurnya.

"Aah, Chloe....."

Dengan lembut menutup buku yang dia baca, Chloe lalu mengalihkan pandangannya pada Mia.

"Apakah ada yang anda ingin saya lakukan? Apakah anda ingin minum air ataukah sesuatu untuk dimakan..."
"Terima kasih atas perhatianmu, tapi janganlah terlalu dekat, atau dirimu akan tertular demam...... Apahal, itu?"

Mia tanpa sadar bertanya. Suatu kain putih menutupi sebagian bawah wajah Chloe, menutupi hidung dan mulutnya.

"Ini disebut masker, dan ini dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari tertular demam."

Seperti yang dapat diharapkan dari seorang putri saudagar. Chloe ternyata mengejutkannya sangat tangguh.

"Saat ini Anne sedang mengambil air dingin. Juga, Saya membawakan anda obat demam yang dikirimkan oleh ayah saya, jadi mohon untuk meminumnya nanti."

Sambil mengucapkan itu, Chloe tersenyum padanya, namun itu membuat Mia merasa sulit untuk mengungkapkan.

"Diriku berhutang satu permintaan maaf padamu."
"Ee.....?"

Chloe memiringkan kepalanya dalam kebingungan atas perkataan tiba-tiba itu. Kemudian Mia melanjutkan.

"Saat itu, diriku berpura-pura tidak melihatmu tidak peduli akan rasa sakit yang dirimu tahan. Sungguh, diriku minta maaf."
".....Emmmm, Putri Mia, mungkinkah anda bermimpi?"

Chloe terkikik.
Mimpi......, mungkin itu benar.
Mungkin kejadian tersebut tidaklah benar-benar terjadi, dan juga mungkin gambaran masa depan yang takkan pernah datang, yang mungkin itu hanya mimpi belaka.
Meski begitu, rasa bersalah di dada Mia terasa menyakitkannya dan menusuknya. Namun...

"Saya telah banyak bersenang-senang sejak berteman dengan anda, Putri Mia. Membuat roti labis bersama adalah suatu hal, namun yang lebih dari itu, dapat membicarakan tentang kuku cerita bersama seorang teman adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Jadi, anda tidaklah perlu untuk meminta maaf kepada saya."

Mendengar kata-kata itu, Mia merasa sedikit lega.
Merasa agak mengantuk, Mia bertanya dengan suara kecil,

"....Maukah dirimu membacakan padaku sebuah dongeng...."
"Eh?"
"....Diriku ingin dirimu menceritakan. Jika ada buku menarik yang dirimu baca akhir-akhir ini, ceritakanlah tentang itu."
"Dipahami, lalu kemudian...."

Sambil mendengarkan suara malu-malu Chloe, Mia jatuh terlelap lagi.




~"(This is a Translation Content of pemudatunawisata.my.id. so, read only on my site)"~

[Akhir Bab]


Terima kasih telah membaca disini
Bila ada salah-salah kata, dsb. bisa beritahu di komentar.

Terima Kasih Telah Singgah!
πŸ˜πŸ‘

Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa komentar
Kamu juga bisa mempertimbangkan untuk mendukung


If you'd like to and wouldn't mind,
you could support, or sawer, or traktir me on:

Post a Comment

0 Comments

At a certain time, there are creatures that walk by two feet. These creatures can be divided into two by gender. These creatures are surprisingly able to pick something using things called hands.
And on a certain day, two of these creatures meet.

"Halloo~ I am Bujangga, ndesu! Nice to meet you!"
"Y, yes. Nice to meet you too, I am Fuurawan."
"Fuurawan-chan ka? Ii no namae."
"S, sangkyu."

The two greet each other due of their faces are facing each other.
They speak, breathe, blink, sweat, and so.
And after a long time passes,

 "!?"
"Kyaa~ Bujang-kyun."
"Daijoubu ka? Fuurawan-chan."
"D, daijoubu... desu."
"Mmm."
"Doushita no?"
"Fuurawan-chan no kaori, suuuuggoku WANGY, hmmmmmppppsshhh ahhhh wangyyyy."
"Mou~ Bujang-kyun no eccchi~."

On a certain day, these two meet and have lunch because they are hungry.
The boy orders fried rice while the girl orders a serve of seasoned rice being processed by frying.
For the drinks, the boy orders hot chocolate while the girl orders a cup of chocolate that has not been cold yet.
They eat their food.
They also feed some spoons with each other.
They then having a leisure exchange.

"Ikeh, yaru?"
"Damee~"
"Ikeh!"
"..."
"Ikeh, tanoshii, kimochii, ore, ganbarimasu!!!"
"Mouu~"
"Dame ka?"
"..."
"Dame nanoka."
"Ee, haayaakuuu~"

The two of them are having exercise, training, and workout, then.
When they finished, then they restarted.
And when they finished, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

On the other occasion,
On a day that is not a night.
That day the sun is shining brightly because it's a day and 12:00 o'clock.
The day is bright and the sun has not been set yet.
The breeze can be felt due to the air is flowing.
As he is breathing, a certain boy is approaching a girl.

"Yaa, kitten-chan, can I have your namae?"
"S, su, suteki~. Ah, hai. Fuurawan desu."
"Fuurawan-chan, huh. What a kirei no namae. By the way, watashi no namae is Badz Zheengan. Watashi wa Son of a Beach. Watashi came from The Pangea Selatan. Diligent in setsuyaku. Ketsueki type is I, I for Ikkehmen. Watashi no hobby wa breathing. Yoroshiku."
"Yoroshiku, Badz Zheengan-san."
"Fuurawan-chan, watashi no yubi to kimi no chawan, let's have made karera meet and unite."
"Hai."
"Watashi-tachi will have much tanoshi."

They have a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok.
When they have done of their a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok, then they re-doing again.
When they finished again, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

"Fuurawan-chaaannn!!! Ikanaide!!!!."
"Gomen ne, Bujang-kun."
"Dameee, Fuurawan-chaannnn!!!"
"Sayonara, Bujang-kun."