Tearmoon Empire Story I - Bab 53

Settings:
Tearmoon Empire Story (WN)
Lakon 1 - Tuan Putri Yang Terpancung


Src: https://ncode.syosetu.com/n8920ex/55




53 - Putri Mia, berkeringat dingin 2


Didorong oleh perkataan Anne, Mia segera bergerak mengumpulkan bala bantuan.
Namun, ia tidak memiliki banyak koneksi yang dapat ia andalkan. Bagaimanapun lingkungan disekitar Mia hanyalah para putri bangsawan yang sama sekali belum pernah menyentuh peratalan masak. Dan pula, sebagian besar siswa yang menghadiri Akademi St. Noel juga dalam keadaan yang sama.
Namun, ada satu pengecualian.
Yang pertama ia cari adalah Chloe.
Keluarganya, Keluarga Folkrod, adalah keluarga bangsawan, namun gelar kebangsawanan mereka diperoleh dengan uang.
Dan sampai sekarangpun, kehidupan keluarga Chloe masihlah dalam gaya kehidupan saudagar.
Maka, ada kemungkinan besar bahwa Chloe dapat memasak.

"Ah, Putri Mia...... eh? Tentang memasak.... bukan?"

Menanggapi pertanyaan mendadak Mia, Chloe memiringkan kepalanya, dan,

"Ya, Saya tahu, saya sudah pernah membacanya."

Chloe membalas sambil tersenyum.

Tahu......, sudah pernah membacanya.......

――Anak ini juga, sama-sama tidak bisa diharapkan.

Mia mencium aroma bahaya samar dari perkataan yang diucapkan oleh Chloe, namun, Mia masih tetap mengundang Chloe sebagai tambahan bala bantuan pembuatan kotak bekal makan siang untuk saat ini.
Diriku takkan mampu melewati masalah genting bilamana diriku tidak bersiap akan pengorbanan.

"Baik, jika hari itu, saya tidak memiliki rencana apapun,....."

Setelah berpamitan pada Chloe, yang dengan segera menyanggupinya, Mia bergerak lagi mencari lebih banyak bala bantuan.


Ini adalah konten terjemahan yang diterjemahkan di pemudatunawisata.my.id, jadi pastikan membaca dari sini ya!


Saat Mia melanjutkan pencarian bala bantuan....

".....Diriku sama sekali tidak dapat memikirkan siapapun!"

Mia berada dalam kebuntuan.
Hal ini adalah hal yang mengejutkan bagi Mia, karena ia sudah mengerahkan segenap usahanya untuk membangun koneksi.

――Pertama-tama, mencari siswa yang dapat memasak di akademi ini adalah suatu hal yang amat sulit!

Mia kembali ke kamarnya menjatuhkan dirinya berbaring dalam sikap yang tidak pantas bagi sosoknya, dan kemudian ia melihat Anne kembali.

"Putri Mia! Saya telah menemukannya. Saya menemukan seseorang yang dapat memasak."
"Benarkah!? Berbicara tentang kenalan Anne yang dapat memasak....."

Mia berpikir sejenak, lalu dengan cepat sampai pada kesimpulan.

"Aah, mungkinkah itu, Liora?"

Mia dalam sekejap teringat akan pelayan Tiona, Liora, namun...

"E, bukan, itu.... Riola tampaknya terampil dalam menangani kelinci liar dan memanggangnya saat itu juga, tapi...."

Itu adalah metode memasak yang agak liar. Mungkin itu memanglah keterampilan yang amatlah penting untuk seseorang hidup dalam hutan, tapi.... tidak diketahui seberapa banyak manfaat dari keterampilan tersebut untuk dapat diterapkan dalam pembuatan kotak bekal.

"Bukan Riola, melainkan Nona Tiona-lah yang nampaknya pandai dalam memasak."
"Eh, Tiona.... ya?"

Mia tidak bisa untuk tidak tersentak.
Dia adalah sosok yang sebisa mungkin ia coba hindari dan buat kontak se-minimal mungkin. Dan juga dia adalah musuh besarnya yang telah menuntunnya menuju jalan tiang pemancungan.
Tapi....

"Benar, saya dengar bahwa Nona Tiona terkadang membantu memasak di rumahnya..."

Begitu, Keluarga Rudolfon adalah bangsawan miskin yang mana pada taraf dimana tidak dapan menyebut mereka sebagai bangsawan. Terlebih dengan mereka yang mengelola lahan pertanian yang amat luas.
Sebagian besar petugas dan pelayan mereka dialihkan untuk mengelola tugas pertanian, jadi tidak mengherankan bila Tiona membantu dalam urusan memasak.
Tampaknya dia patut untuk diperhitungkan sebagai bala bantuan.

"Uuh, h-harus bagaimana lagi bukan...."

Dengan berlinang air mata darah, Mia berkunjung ke tempat Tiona.

"Eh, Putri Mia..... kiranya apakah ada yang dapat saya bantu?"

Mia membalas Tiona, yang sedang terkejuta atas kunjungan mendadak Mia itu.

"Tiona, diriku dengar bahwa dirimu terampil dalam memasak, apakah itu benar?"
"Ya..."

Tiona mengangguk. Dengan ini pasti berhasil, bukan? Mia merasa senang....

"Saya selalu bertugas memotong sayuran. Jadi saya yakin akan keterampilan saya dalam memotong."

Sampai saat ia mendengar kalimat tersebut, dan Mia seketika menjadi cemas kembali.

"Selain itu....?"
"Saya dapat mencincang dengan sempurna."

Mia tidak memiliki pengetahuan tata boga.... Sedikitpun tidak, namun, naluri Mia mengatakan bahwa ia harus meminjam keterampilannya.
Tampaknya itu adalah keterampilan yang tidak berguna, namun juga tampaknya itu adalah keterampilan yang terasah.....
Mia tidak punya pilihan lain selain mengandalkannya. Diriku akan menggunakan apapun yang dapat digunakan, bahkan meskipun itu serangga sekalipun.

"Tiona, sejujurnya, diriku sedang berpikir untuk membuat kotak bekal guna dihadiahkan pada Pangeran Abel di hari Kejuaraan Berpedang, jadi apakah dirimu mau bergabung dalam rencana milik diriku?"
"Eh, hal semacam itu..... saya merasa bahwa saya tidaklah memiliki kepantasan untuk menghabiskan waktu bersama Tuan Putri.... Dan pula, saya tidak memiliki seseorang untuk saya hadiahi kotak bekal...."

Mendengarkan kata-kata itu...... Tiba-tiba, kilatan gagasan jahat muncul dalam benak Mia.

"Ah, begitu. Jika seperti itu, Dia..... ehem! Emmm, lalu bagaimana kalau dirimu membuatnya jua, dan kemudian menghadiahkannya pada Pangeran Shion?"

Menurut perkiraan Mia, peluang keberhasilan kotak bekal ini tidaklah terlalu besar. Jika tidak berjalan baik, Pangeran Abel kemungkinan akan menjadi sakit perut dikarenakan memakan makanan aneh yang diramu Mia dan yang lainnya, dan mungkin pula dia tidak akan bisa tampil baik dalam Kejuaraan Berpedang.
Namun.... jika kasus yang sama terjadi pada Pangeran Shion....

――Jikalau seperti itu, dan pula berhasil. Ini mungkin akan menjadi suatu pembalasan dendam yang tepat!

Rencana membuat kotak bekal makan siangnya sudah mencapai titik dimana ia tidak mungkin lagi bisa mundur. Dan itulah sebabnya Mia tidak ingin jika rencana ini hanya berakhir dengan kegagalan dan kesia-siaan belaka.
Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk jua menjatuhkan musuh besar diriku!
Seperti itu, Mia tetaplah berpikiran positif! Dan pula apa sebenarnya pikiran positifnya itu?

――Terlebih jika diriku bukanlah satu-satunya yang harus disalahkan, melainkan Tiona jua, maka Pangeran Shion takkan menaruh dendam pada diriku sendirian. Ini adalah cara yang sungguhlah bagus untuk pembalasan dendam!

Mia tersenyum dengan senyuman yang berisikan kegelapan.
Namun, dengannya melibatkan Pangeran Shion, rencananya bergulir menuju arah yang tidak ia harapkan.



~"(This is a Translation Content of pemudatunawisata.my.id. so, read only on my site)"~

[Akhir Bab]


Terima kasih telah membaca disini
Bila ada salah-salah kata, dsb. bisa beritahu di komentar.

Terima Kasih Telah Singgah!
πŸ˜πŸ‘

Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa komentar
Kamu juga bisa mempertimbangkan untuk mendukung


Informasi:
1. Peningkatan; sudah tersedia mode gelap.
2. Bagi yang berkenan untuk mendukung lebih, sudah tersedia laman Saweria

If you'd like to and wouldn't mind,
you could support, or sawer, or traktir me on:

Post a Comment

0 Comments

At a certain time, there are creatures that walk by two feet. These creatures can be divided into two by gender. These creatures are surprisingly able to pick something using things called hands.
And on a certain day, two of these creatures meet.

"Halloo~ I am Bujangga, ndesu! Nice to meet you!"
"Y, yes. Nice to meet you too, I am Fuurawan."
"Fuurawan-chan ka? Ii no namae."
"S, sangkyu."

The two greet each other due of their faces are facing each other.
They speak, breathe, blink, sweat, and so.
And after a long time passes,

 "!?"
"Kyaa~ Bujang-kyun."
"Daijoubu ka? Fuurawan-chan."
"D, daijoubu... desu."
"Mmm."
"Doushita no?"
"Fuurawan-chan no kaori, suuuuggoku WANGY, hmmmmmppppsshhh ahhhh wangyyyy."
"Mou~ Bujang-kyun no eccchi~."

On a certain day, these two meet and have lunch because they are hungry.
The boy orders fried rice while the girl orders a serve of seasoned rice being processed by frying.
For the drinks, the boy orders hot chocolate while the girl orders a cup of chocolate that has not been cold yet.
They eat their food.
They also feed some spoons with each other.
They then having a leisure exchange.

"Ikeh, yaru?"
"Damee~"
"Ikeh!"
"..."
"Ikeh, tanoshii, kimochii, ore, ganbarimasu!!!"
"Mouu~"
"Dame ka?"
"..."
"Dame nanoka."
"Ee, haayaakuuu~"

The two of them are having exercise, training, and workout, then.
When they finished, then they restarted.
And when they finished, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

On the other occasion,
On a day that is not a night.
That day the sun is shining brightly because it's a day and 12:00 o'clock.
The day is bright and the sun has not been set yet.
The breeze can be felt due to the air is flowing.
As he is breathing, a certain boy is approaching a girl.

"Yaa, kitten-chan, can I have your namae?"
"S, su, suteki~. Ah, hai. Fuurawan desu."
"Fuurawan-chan, huh. What a kirei no namae. By the way, watashi no namae is Badz Zheengan. Watashi wa Son of a Beach. Watashi came from The Pangea Selatan. Diligent in setsuyaku. Ketsueki type is I, I for Ikkehmen. Watashi no hobby wa breathing. Yoroshiku."
"Yoroshiku, Badz Zheengan-san."
"Fuurawan-chan, watashi no yubi to kimi no chawan, let's have made karera meet and unite."
"Hai."
"Watashi-tachi will have much tanoshi."

They have a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok.
When they have done of their a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok, then they re-doing again.
When they finished again, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

"Fuurawan-chaaannn!!! Ikanaide!!!!."
"Gomen ne, Bujang-kun."
"Dameee, Fuurawan-chaannnn!!!"
"Sayonara, Bujang-kun."