Tearmoon Empire Story I - Bab 63

Settings:
Tearmoon Empire Story (WN)
Lakon 1 - Tuan Putri Yang Terpancung


Src: https://ncode.syosetu.com/n8920ex/65


Maafkan aduhai rekan sekalian, 
Laptop sedang lara, panas melampaui tara.



63 - Kejuaraan Berpedang 4 -Penentuan-


"Lalu, marilah kita mulai pertandingan selanjutnya. Shion Saul Sankland, Abel Remno, silakan menuju ke arena."

Kedua pangeran, yang masing-masing nama mereka dipanggil, perlahan berjalan menghadap arena.
Banyak siswa berkumpul di sekeliling arena.
Tak hanya terhadap Shion, yang seorang pangeran dari negara besar yang terkenal akan kejeniusannya dalam seni berpedang, tetapi juga pada Abel, yang telah menorehkan kemajuan besar meskipun ia masihlah murid baru, telah menarik perhatian para penonton.

――Ya ampun, sangatlah tidak terduga, bagi seorang diriku ini dapat menarik begitu banyak perhatian

Dengan tersenyum pahit, Abel memberi salam penghormatan pada Shion.
Kemudian ia menarik pedangnya menghunuskannya di atas kepalanya.
Itu adalah apa yang disebut posisi kuda-kuda atas. (PTW/N: lebih lanjut cari di kata kunci "Jodan Kendo"; "Jodan no Kamae")

Berkebalikan, Shion perlahan menurunkan pedangnya dalam posisi kuda-kuda bawah (PTW/N: lebih lanjut cari di kata kunci "Gedan Kendo"; "Gedan no Kamae")
Seni pedang Shion adalah pedang jenius.
Dia akan menerima serangan lawan, menangkisnya, lalu melancarkan serangan balik saat kuda-kuda lawan diruntuhkan.
Counter, sebuah teknik pedang yang mengantisipasi tindakan setelahnya.
Serangan itu adalah serangan yang mematikan. Lawan tidak akan mampu menghindari maupun menerima serangan, dan lawan pun kalah.

Itu adalah langkah yang tidak akan pernah bisa dilakukan tanpa adanya kepercayaan diri untuk bisa menerima serangan apapun dari lawan, langkah yang tidak akan bisa dilakukan oleh Abel.

Abel Remno adalah orang yang biasa saja.
Ia sadar akan hal itu sejak kecil, dan pemikiran itu mengukuh setelah ia bersilang pedang dengan Shion.
Ada celah dalam bakat alami diantara mereka, dan ia meyakini bahwa celah itu takkan mampu ia tutup. Dia memiliki kesadaran semacam itu.
Karena itu ia menyerah. Itu adalah pilihan yang paling bijak, begitu pikirnya.
Jika ada celah dalam bakat mereka yang tidak dapat ditutup, tidak ada gunanya bagi dirinya untuk mengusahakan yang terbaik.
Jadi, ia memilih untuk tidak berusaha lebih keras.
Itu adalah pilihan yang paling masuk akal, pikirnya.

Tapi....., ketika ia datang ke Akademi St. Noel dan bertemu dengan Mia, satu pemikiran lahir dalam dirinya.
Aku tidak ingin kalah dari Shion, Aku ingin menang.
Aku akan menang, memenuhi harapan Mia, membayar kepercayaan darinya.
Namun, aaah.... kenyataan begitu kejam.
Ia memiliki hasrat, namun ia tidak mampu menjembatani kesenjangan baik dalam celah kemampuan maupun bakat.

Jika lawannya adalah seseorang yang mabuk akan bakatnya sendiri dan mengabaikan kerja keras, ia bisa mengusahakan untuk menang.
Akan tetapi, meskipun seorang jenius, Shion tidak pernah melewatkan latihannya. Seorang berbakat yang berlatih keras meningkatkan kemampuannya dengan cara yang sama seperti orang biasa.
Itu tidak akan menutup celah, malahan akan semakin memperlebarnya....
Adalah kemustahilan untuk menggunakan cara normal.

.....Oleh karenanya, Abel membuangnya.
Itu adalah hal yang sangat, sangatlah sederhana.
Jika ia tidak bisa menang dalam ilmu berpedang, maka ia hanya perlu membatasi latihannya.
Lebih, ia bisa mempersempitnya.
Buang segala pertahanan, buang segala gerak tipu, buang segala serangan, buang segala jegalan....... Ia hanya perlu memusatkan segala usahanya pada satu hal. (PTW/N: aku ngga tau "Yoko Nagi". kalo per kata sih "horizontal, lying down; side to side, width, breadth; side, beside, aside, next to; unconnescted" sama "become calm, die down; mow down, scyte down, knock their feet". jadi kemungkinan sih menjegal kaki dengan jegalan horizontal.)

Pedang yang ia angkat hingga atas kepalanya ia ayunkan kebawah. Ia telah mengabdikan segala usahanya untuk mempelajari satu gerakan ini.
Sejak malam pesta dansa itu, ia telah mencurahkan segala upaya jiwa dan raganya dalam mengayunkan pedang setiap hari.
Segala kerja keras itu, segala upaya itu, kini telah mencapai ranah pedang seorang jenius!


Ini adalah konten terjemahan yang diterjemahkan di pemudatunawisata.my.id, jadi pastikan membaca dari sini ya!


Chiiiinnngggggggg!
Suara logam bernada tinggi dan tumpul datang setelahnya.
Abel mendapati bahwa serangannya telah ditahan.

――Apa, ini masih belum mencapainya?

Apa yang didepan matanya menjadi gelap karena kekecewaannya.
Meski begitu....., masih, tidak ada serangan balik dari Shion.
Dari pedang yang saling berbenturan itu, bahkan pedangnyalah yang memiliki keunggulan......, Shion terdorong kebelakang hingga ke tepi arena.

"Bukankah sebelumnya kita sudah setuju untuk tidak berlaku lunak?"

Sambil tersenyum masam, Shion menanggapi keluhan Abel.

"Maafkan saya untuk tidak dapat memenuhi harapan anda, namun disini juga memiliki keadaannya sendiri."
"Apakah anda bermaksud untuk mengejek saya....., kurasa bukan itu masalahnya, bukan? Baiklah, bagaimanapun jua.....,"

Abel sekali lagi menyiapkan posisi kuda-kuda atasnya.

"Hanya sebanyak ini yang mampu saya lakukan."

Serangan selanjutnya dilancarkan.


Ini adalah konten terjemahan yang diterjemahkan di pemudatunawisata.my.id, jadi pastikan membaca dari sini ya!


"Kuh!"

Shion menghindari ayunan pedang itu dengan jarak selembar kertas. Ia tidak bertujuan untuk itu. Namun karena ketajaman serangan itu, ia dipaksa menghindar dalam jarak selembar kertas.

――Sungguh tidak terduga, untuk sampai taraf ini....

Ia tidak bermaksud merendahkan lawannya.
Namun, serangan Abel jauh lebih tajam dan lebih berat dari apa yang diperkirakan oleh Shion.
Entah bagaimana, ia berhasil memutar pedangnya dihadapan serangan Abel, namun...., itu yang terbaik yang dapat ia lakukan.
Kekuatan penghancur dari pedang itu, yang ia tidak mampu menghalau dan mengalihkan kekuatan itu, menghantam lengan Shion.

――Ini pertama kalinya lenganku mati rasa sejak pelatihan bersama ayahanda.

Belum lagi melancarkan serangan balik, bahkan menahan pedangnya pun berbahaya. Tidak diragukan lagi, serangan Abel memojokkan Shion.
Namun.......,

"Haaa!"

Abel mengayunkan pedangnya lagi, dan Shion menghindarinya hanya dengan menggerakkan kakinya.
Shion Saul Sankland adalah seorang jenius yang tak terbantahkan. Karenanya, hanya dengan serangan pertama, ia sudah melihat ranah serangan Abel dengan sempurna.

――Meskipun, ini masih bisa ditangani karena dia hanya melancarkan serangan ayunan kebawah saja......

Shion telah menyadarinya.
Serangan Abel dapat dihindari karena serangan itu terbatas pada serangan ayunan ke bawah, namun jika itu digabungkan dengan gerakan lain.....
Tidak harus sekuat ayunan kebawah itu.
Jika ada jurus pamungkas semacam itu, maka ia dapat memanfaatkannya.
Shion merasakan bahaya dari potensi tersembunyi dalam diri Abel itu.

――Untuk saat ini tidak ada pilihan lain selain menunggu tanganku pulih. Aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan sampai mati rasa ini untuk sembuh.....

Ia memutuskan untuk menanyakan apa yang terlintas di benaknya.

"Pangeran Abel....., yang membuat anda begitu kuat sampai tingkat ini, apakah itu Putri Mia?"
"Benar, Putri Mia percaya pada saya dan mengharapkan supaya saya menang..... Jadi, saya tidak boleh kalah disini."
"Apakah begitu,...... itu, sungguh membuat iri."

Ia menghela napas ringan dan menegaskan kembali genggaman pedangnya.

"Namun begitu pula dengan saya, saya tidak boleh kalah disini."

Sedikit waktu lagi sampai mati rasa pada lengannya terangkat.
Saat ia menanti kesempatan untuk melancarkan serangan balik, tetesan hujan jatuh di bilah pedangnya.


~"(This is a Translation Content of pemudatunawisata.my.id. so, read only on my site)"~

[Akhir Bab]


Terima kasih telah membaca disini
Bila ada salah-salah kata, dsb. bisa beritahu di komentar.

Terima Kasih Telah Singgah!
πŸ˜πŸ‘

Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa komentar
Kamu juga bisa mempertimbangkan untuk mendukung


If you'd like to and wouldn't mind,
you could support, or sawer, or traktir me on:

Post a Comment

0 Comments

At a certain time, there are creatures that walk by two feet. These creatures can be divided into two by gender. These creatures are surprisingly able to pick something using things called hands.
And on a certain day, two of these creatures meet.

"Halloo~ I am Bujangga, ndesu! Nice to meet you!"
"Y, yes. Nice to meet you too, I am Fuurawan."
"Fuurawan-chan ka? Ii no namae."
"S, sangkyu."

The two greet each other due of their faces are facing each other.
They speak, breathe, blink, sweat, and so.
And after a long time passes,

 "!?"
"Kyaa~ Bujang-kyun."
"Daijoubu ka? Fuurawan-chan."
"D, daijoubu... desu."
"Mmm."
"Doushita no?"
"Fuurawan-chan no kaori, suuuuggoku WANGY, hmmmmmppppsshhh ahhhh wangyyyy."
"Mou~ Bujang-kyun no eccchi~."

On a certain day, these two meet and have lunch because they are hungry.
The boy orders fried rice while the girl orders a serve of seasoned rice being processed by frying.
For the drinks, the boy orders hot chocolate while the girl orders a cup of chocolate that has not been cold yet.
They eat their food.
They also feed some spoons with each other.
They then having a leisure exchange.

"Ikeh, yaru?"
"Damee~"
"Ikeh!"
"..."
"Ikeh, tanoshii, kimochii, ore, ganbarimasu!!!"
"Mouu~"
"Dame ka?"
"..."
"Dame nanoka."
"Ee, haayaakuuu~"

The two of them are having exercise, training, and workout, then.
When they finished, then they restarted.
And when they finished, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

On the other occasion,
On a day that is not a night.
That day the sun is shining brightly because it's a day and 12:00 o'clock.
The day is bright and the sun has not been set yet.
The breeze can be felt due to the air is flowing.
As he is breathing, a certain boy is approaching a girl.

"Yaa, kitten-chan, can I have your namae?"
"S, su, suteki~. Ah, hai. Fuurawan desu."
"Fuurawan-chan, huh. What a kirei no namae. By the way, watashi no namae is Badz Zheengan. Watashi wa Son of a Beach. Watashi came from The Pangea Selatan. Diligent in setsuyaku. Ketsueki type is I, I for Ikkehmen. Watashi no hobby wa breathing. Yoroshiku."
"Yoroshiku, Badz Zheengan-san."
"Fuurawan-chan, watashi no yubi to kimi no chawan, let's have made karera meet and unite."
"Hai."
"Watashi-tachi will have much tanoshi."

They have a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok.
When they have done of their a wik wok awok koakoawaok akoawoakakwa kawkaowaoaok, then they re-doing again.
When they finished again, the boy pleaded for the second.
Then when they finished, this time in the girl who asked the third.
And when they finished, the boy once again pleaded for the fourth.
Then when they finished, the girl also once again asked for the fifth.
And so on.

◆◆◆

"Fuurawan-chaaannn!!! Ikanaide!!!!."
"Gomen ne, Bujang-kun."
"Dameee, Fuurawan-chaannnn!!!"
"Sayonara, Bujang-kun."